Friday, May 10, 2013

Asuhan Kebidanan Patologi


ASUHAN KEBIDANAN INC PATOLOGI 

KOMPREHENSIF PADA NY “ R ” G2P10001
USIA KEHAMILAN 26 MINGGU
T/H/INYTRA UTERINE,LETKEP
DENGAN PARTUS PREMATURUS


LANDASAN TEORI
2.1 Definisi
Persalinan prematur adalah persalinan yang dimulai setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum kehamilan 37 minggu ( Barbara R straight,2002)
Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi dibawah umur kehamilan 37 minggu dengan perkiraan berat janin kurang dari 2.500 gr. Resiko persalinan preterm adalah tingginya angka kematian (Manuaba,ida bagus gede,2002).

2.2 Etiologi Dan Faktor Resiko
Etiologi persalinan sering kali tidak diketahui. Ada beberapa kondisi medik yang mendorong untuk dilakukannya tindakan sehingga terjadi persalinan prematur. Kondisi yang menimbulkan partus prematur :
1. Hipertensi
Tekanan darah tinggi menyebabkan penolong cendrung untuk mengakhiri kehamilan, hal ini menimbulkan prevalensi persalinan prematur meningkat.
2. Perkembangan janin terhambat
Merupakan kondisi dimana salah satu sebabnya ialah pemasokan oksigen dan makanan mungkin kurang adekuat dan hal ini mendorong unutk terminasi kehamilan lebih dini.
3. Solusio plasenta
Terlepasnya plaseta akan meransang untuk terjadinya persalinan prematur meskipun ebgaian besar terjadi matur. Pada pasien dengan riwayat solusio plasenta maka kemungkinan terulang menjadi lebih besar.
4. Plasenta previa
Sering kali berhubungan dengan persalinan prematur akibat harus dilakukan tindakan pada perdarahan yang banyak. Biola terjadi perdarhan bnayak maka kemungkinan kondisi janin kurang baik karena hipoksia.
5. Kelainan rhesus
Sebelum ditemukan ANH D imunoglobulin maka kejadian induksi menjadi berkurang, meskipun demikian hal ini masih sein terjadi.
6. Diabetes
Pada kehamilan dengan diabetes yang tidak terkendali maka dapat dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Tapi saat ini denga pemberian insulin dan diet yang terprogram, umumnya gula darah dapat dikendalikan.
Kondisi yang menimbulkan kontraksi :
Ada beberapa kondisi yang merangasang terjadinya kontraksi spontan, kemungkinan telah terjadi produksi prostaglandin yakni :
a. Kelainan bawaan uterus
Meskipun jarang terjadi tetapi dapat dipertimbangkan hubungan terjadinya partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.
b. Ketuban pecah dini
Mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti serviks inkompeten, hidramnion, kehamilan ganda, infeksi vagina, dan serviks dan lain-lain. infeksi asenden merupkan teori yang cukup kuat dalam mendukung terjadinya amnionitis dan kemungkinan ketuban pecah.
c. Serviks inkompeten
Hal ini mungkin menjadi penyebab abortus selain partus preterm. Riwayat tindakan serviks dapat dihubingkan dengan terjaduinya inkompeten.
d. Kehamilan ganda
Sebnayk 10% pasien dengan partus pretrm ialah kehamilan ganda dan secara umum kehamilan ganda mempunyai mata gestasi yang lebih pendek.

2.3 Manifestasi Klinis
1. Kontraksi uterus yang teratur sedikitnya 3-5 menit sekali selama 45 detik dalam waktu minimal 2 jam.
2. Pada fas aktif, intensitas dan frekuesi kontraksi meningat saat pasien melakukan aktivitas
3. Usia kehamilan antara 20-37 minggu
4. Taksiran berat janin sesuai usia kehamilan anatar 20-37 minggu
5. Presentasi janin abnormal lebih sering ditemukan pada persalinan pretrm.
Bila persalina kemudian menjadi nyata, maka pengobatan dapat dimulai bila tidak funsi uterus dievalusi lebih lanjut dengan mengguankan toporafi eksternal untuk merekam terjadinya kontraksi, pembukaan serviks yang progresif, merupakan tanda persalinan
2.4 Penyulit Bayi Pretrm
Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran telah maju dengan pesat sehingga dapat menurunkan angka kematian bayi pretrm. Penyulit perawatan bayi pretrm disebabkan :
a. Perkembangan alat vital belum sempurna sehingga mudah terjadi gangguan hati, mudah terjadi kterus dan gangguan fungsi lainnya.
b. Mudah terjadi infeksi karena daya tahan tubuh rendah
c. Perkembangan mental dan intelektual berjalan lambat sehingga sulit mengikuti ilmu pengethuna dan teknologi dan dapat menjadi beban keluarga dan masyarakat.

2.5 Pencegahan
Yang dimaksud disisni dengan pencegahan ialah mencegah kelahiran prematur bukan karena kondisi medik (perdarahan, hipertensi), jadi bila ad psien dengan indikasi (riwayat preterm) atau gemelii dapat dimasukka kedalam program ini. Beberapa peneliti telah mencoba membuat program bagi pasien dengan indikasi partus pretrm dan mencoba menghentikan proses dngan terapi tokolisis, hasilnya cukup menarik dengan menurunkan kejadian pretm sampai separuhnya.
Pasien diberitahu mengenai gejala kontraksi, baik secara palpasi maupun alat perekam selama 2 jam dalam sehari. Dari penelitian yang dilakukan ternyata kontraksi menjadi lebih sering yaitu 2x/10 mnit dalam 48 jam menjelang partus. Pasien dapat diinstruksikan bahwa bila meraskan kontraksi 4 kai atau lebih petjam diminta untuk menghubungi klinik. Pasien dianjurkan untuk datang ke klinim dan dinilai keadaan serviks yang bila ternyat  matang maka dapat dilaukan pengobtan tokolisis. Sebelum memberikan terapi tokolisis, sebaiknya dilakukan pengawasan adamya HIS, dalam keadaan pasien berbaring miring dan memberikannya minum. Bila kontraksi hilang maka tidak perlu melanjutkan terapi tokolisis.
Perlu diperiksa adanya kontra indiksi pemberian obat-obat beta metalis, jangan diberikan pada pasien denga penyakit jantung, edema paru, pengobatan tokolisis dimulai dengan infus dan kemudian dapat dilanjutkan dengan obat oral secara berobat orla bila ternyata partus dapat ditunda. Obat anti prostaglandin (misalnya Indomethaan) harus diapkai denan sangata selektif mengingat komplikasi yang ditimbulkan terhadapa janin seperti Sindrom gawat nafas dan kelainan ginjal. Kelahiran pretrm merupakan masalah masional yang multikompleks dan perlu pemecahan yang konseptual. Secara mikro ada program yang kompreghensif disetiap klinik untuk mecegah kelahiran pretrm. Ibu sebaiknya dirujuk kepada klinik yang mampu menangani resisitasi, stabilisasi dan perawtan bayi preterm. Kebijakan penanganan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setempat yang memberikan evalus=asi terus-menerus guna mengurangi mortalitas dan morbiditas bayi pretrm.
2.6 Pemeriksaan Penunjang
a pemeriksaan darah lengkap dan hitung janin
b urinalisis
c ultrasonografi untuk menilai berat janin, posisi jani dan letak plesenta
d amniosintesis untuk melihat kematngan beberapa organ janin, seperti rasio lasitin, spingo myelin, surfaktan dan ;lain-lain.
2.7 Penatalaksanaan
Setiap persalinan  pretm harus dirujuk ke RS, carai apakah faktor penyulit ada dan nilai apakah termasuk resiko tinggi atau rendah.
1. Sbelum dirujuk, berikan air minum 1.000 ml dalam waktu 30 menit dan nilai apakah kontraksi berhenti atau tidak
2. Bila kontraksi masih berlanjut, berikan obat tokolisis seperti Fenoterol 5 Mg peroral dosis tungga sebgai pilihan utama atau Ritodrin 5 Mg per oral dosis tungga sebagai pilihan kedua, atau ibu profen 400 Mg per oral dosis tunggal sebagai pilihan ketiga.
3. Bila pasien menolak dirujik, pasien harus istirahat baring dan bnyak minum, tidak diperbolehkan bersenggama. Pasien diberikan tokolitik sperti Fenoterol 5 Mg peroral setiap 6 jam atau Ritodrin 10 Mg peroral setiap 4 jam atau Ibu profen 400 mg peroral tiap 8 jam sampai 2 hari bebas kontraksi.
4. Persalinan tdak boleh dihinadri bila ada kontraindikasi mutlak (gawat janin, korioamnionitis, perdarahan antepartum, yang bnayak) dan kontra indikasi selative (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).
Dirumah sakit dilakukan :
1. Obsevasi pasien selama 30-60 menit. Penatalaksanaannya tergantung kontraksi uetrsu serta dilatasi  dan pembukaan serviks.
a. Hidrasi dan sedasi, yaitu hidrasi dnegan NaCl 0,9%, dektrose 5% atau RL, dektrose 5% sebnyak 1:1 dan sedasi dengan morfin sulfat 6-12 Mg IM s4lama 1 jam sambil mengobservasi ibu dan janin
b. Pasien kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu :
Kelompok I : pembukaan serviks terus berlangsung maka diberikan tokolisis
Kelompok II : tidaka ada perubahan pembukaan dan kontraksi uterus masih terjadi maka diberikan tokolisis
Kelompok III : tidak ada perubahan pembukaan, kontraksi uterus berkurang maka pasien hanya diobsevasi
2. Berikan tokolisis bila janin salam kedaaan baik. Kehamilan 20-37 minggu, pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan selaput ketuban masih adaa.  Jenis tokolisis adalah Beta mimetik adrenergik, magnesium sulfat 4 gr (200 ml MgSO4 10% dalam 800 ml dekstrose 5% dengan tetsan 100 ml/jam) ati alkohol dan glukokortikoid (contoh : Dexamethason 12 Mg/hari selama 3 hari). Lakukan persalinan pervaginam bila janin presentasi kepala atau  lakukan episiotomi lebar dan ada perlindungan forceps terutama pada kehamilan 35 minggu. Lakukan persalinan SC bila janin letak sunsang, gawata janin dengan syarat partus pervaginam tidak terpenuhi, infeksi Intrapartum dengan syarat partus pervaginam tidak terpenuhi, janin letak lintang, plasenta previa dan TBJ 1500 gr.

Download Lengkap
Disini







share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Dayan Leksono Putro, Published at 5:47 PM and have 0 comments

No comments:

Post a Comment